<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita dewasa 17tahun foto bugil video sex video bokep 3gp telanjang &#187; Tante Girang</title>
	<atom:link href="http://www.situs-dewasa.com/category/tante-girang/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.situs-dewasa.com</link>
	<description>Kumpulan cerita dewasa 17Tahun, ceria panas, cerita porno, gambar bugil smu, bugil smp sampai gambar cewek bugil artis indonesia. Download video bokep 3gp gratis disini.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Oct 2009 19:05:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Gara-Gara NickName</title>
		<link>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/05/2008/gara-gara-nickname.html</link>
		<comments>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/05/2008/gara-gara-nickname.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 19:51:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 17Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Panas]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seks]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seru]]></category>
		<category><![CDATA[SMU Bugil]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>
		<category><![CDATA[situs dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[17tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cerita 17 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[porno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/05/2008/gara-gara-nickname.html</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya perkenalkan namaku Rio. Sampai saat ini aku masih bekerja di salah satu perusahaan IT di Jakarta. Aku juga punya minat yang cukup tinggi dalam urusan seks. Pengalaman seks aku yang pertama kualami dengan salah satu teman chat-ku. Sejak saat itu, aku mulai ketagihan. Biasanya aku berhubungan seks dengan wanita-wanita yang kurang lebih sebaya denganku. [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/05/2008/gara-gara-nickname.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Dewasa : [ Setengah Baya ] Ibu Mertuaku yang Pemarah</title>
		<link>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/11/2007/cerita-dewasa-setengah-baya-ibu-mertuaku-yang-pemarah.html</link>
		<comments>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/11/2007/cerita-dewasa-setengah-baya-ibu-mertuaku-yang-pemarah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Nov 2007 08:56:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 17Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Panas]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seru]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.situs-dewasa.com/cerita-seru/11/2007/cerita-dewasa-setengah-baya-ibu-mertuaku-yang-pemarah.html</guid>
		<description><![CDATA[Tags: Cerita Dewasa, Cerita Seru, Cerita Panas, Cerita 17 Tahun

<blockquote>Dengan perasaan penuh keraguan, kuurut pelan-pelan paha kanannya yang terlihat ada tanda agak merah memanjang yang mungkin sewaktu terjatuh tadi terkena bangku yang dinaikinya seraya kutanya, "Bagaimana Buuu..., apa bagian ini yang sakit..?
"Betul Nak Suuur..., yaa yang ituuu..., tolong urutkan yang agak keras sedikit dari atas ke bawah", dan dengan patuh segera saja kuikuti permintaan ibu mertuaku. Setelah beberapa saat kuurut pahanya yang katanya sakit itu dari bawah ke atas, sambil memejamkan matanya, ibu mertuaku berkata kembali, "Nak Suuur..., tolong agak ke atas sedikit ngurutnya", sambil menarik roknya lebih ke atas sehingga sebagian celana dalamnya yang berwarna merah muda dan tipis itu terlihat jelas dan membuatku menjadi tertegun dan gemetar entah kenapa, apalagi vagina ibu mertuaku itu terlihat mengembung dari luar CD-nya dan ada beberapa helai bulu vaginanya yang keluar dari samping CD-nya.

"Ayoo...,doong..., Nak Sur, kok ngurutnya jadi berhenti", kata ibu mertuaku sehingga membuatku tersadar.
"Iii..., yaa..., Buuu maaf, tapi..., Buuu", jawabku agak terbata-bata dan tanpa menyelesaikan perkataanku karena agak ragu.
"aah... kenapa sih Nak Suuur..?, kata ibu mertuaku kembali sambil tangan kanannya memegang tangan kiriku serta menggoncangnya pelan.
"Buuu..., Saa..., yaa..., saayaa", sahutku tanpa sadar dan tidak tahu apa yang harus kukatakan, tetapi yang pasti penisku menjadi semakin tegang karena melihat bagian CD ibu mertuaku yang menggelembung di bagian tengahnya.

"Nak Suuur..", katanya lirih sambil menarik tangan kiriku dan kuikuti saja tarikan tangannya tanpa prasangka yang bukan-bukan, dan setelah tanganku diciumnya serta digeser geserkan di bibirnya, lalu secara tidak kuduga tanganku diletakkan tepat di atas vaginanya yang masih tertutup CD dan tetap dipegangnya sambil dipijat-pijatkannya secara perlahan ke vaginanya diikuti dengan desis suara ibu mertuaku, "ssshh..., ssshh". Kejadian yang tidak kuduga sama sekali ini begitu mengagetkanku dan secara tidak sadar aku berguman agak keras.
"Buuu..., Saa...yaa", dan belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dari mulut ibu mertuaku terdengar, "Nak Suuur..., koook seperti anak kecil saja.., siiih?".
"Buu..., Saa..., yaa..., takuuut kalau nanti bapak datang", sahutku gemetar karena memang saat itu aku takut benar, sambil mencoba menarik tanganku tetapi tangan ibu mertuaku yang masih tetap memegang tanganku, menahannya dan bahkan semakin menekan tanganku ke vaginanya serta berkata pelan, "Nak Suuur..., Bapak pulang untuk makan siang selalu jam 1 siang nanti..., tolong Ibuuu..., naak",terdengar seperti mengiba.

Sebetulnya siapa sih yang tidak mau kalau sudah seperti ini, aku juga tidak munafik dan pasti para pembaca Situs "17 Tahun.Com" pun juga tidak bisa menahan diri kalau dalam situasi seperti ini, tetapi karena ini baru pertama kualami dan apalagi dengan ibu mertuaku sendiri, tentunya perasaan takutpun pasti akan ada.
"Ayooo...lah Nak Suuur..., tolongin Ibuuu..., Naak", kudengar ibu mertuaku mengiba kembali sehingga membuatku tersadar dan tahu-tahu ibu mertuaku telah memelukku.
"Buuu..., biar saya kunci pintunya dulu, yaa..?", pintaku karena aku was-was kalau nanti ada orang masuk, tetapi ibu mertuaku malah menjawab, "Nggak usah naak..., selama ini nggak pernah ada orang pagi-pagi ke rumah Ibu", serta terus mencium bibirku dengan bernafsu sampai aku sedikit kewalahan untuk bernafas. Semakin lama ibu mertuaku semakin tambah agresif saja, sambil tetap menciumiku, tangannya berusaha melepaskan kaos oblong yang kukenakan dan setelah berhasil melepaskan kaosku dengan mudah disertai dengan bunyi nafasnya yang terdengar berat dan cepat, ibu mertuaku terus mencium wajah serta bibirku dan perlahan-lahan ciumannya bergerak ke arah leher serta kemudian ke arah dadaku.</blockquote>
<br />
<a href="http://www.situs-dewasa.com/url.php?145adzdd4wx" target="_blank" rel="nofollow"><img src="http://www.foto-bugil.info/images/cewek-bugil.gif" border="0"></a><br /><a href="http://www.iklanfun.com/" title="iklan baris">iklan baris</a> &#124; <a href="http://www.iklanfun.com/" title="iklan baris gratis">iklan baris gratis</a>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/11/2007/cerita-dewasa-setengah-baya-ibu-mertuaku-yang-pemarah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Dewasa : Tante Yani : Persetubuhan Pertamaku (2)</title>
		<link>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/11/2007/cerita-dewasa-tante-yani-persetubuhan-pertamaku-2.html</link>
		<comments>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/11/2007/cerita-dewasa-tante-yani-persetubuhan-pertamaku-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 05:12:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 17Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Panas]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seru]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.situs-dewasa.com/cerita-seru/11/2007/cerita-dewasa-tante-yani-persetubuhan-pertamaku-2.html</guid>
		<description><![CDATA[Tags: Cerita Dewasa, Cerita Seru, Cerita Panas, Cerita 17 Tahun, tante girang

<blockquote>Siangnya pulang sekolah ketika aku masuk ke ruang keluarga, Si Mar sedang memijit punggung Tante. Tante tengkurap di karpet, Si Mar menaiki pantat Tante. Punggung Tante itu terbuka 100 %, tak ada tali kutang di sana. Putihnya mak..! Si Mar cepat-cepat menutup punggung itu ketika tahu mataku menjelajah ke sana, sambil melihatku dengan senyum penuh arti. Sialan! Si Mar tahu persis kenakalanku. Aku masuk kamar. Hilang kesempatan menikmati punggung putih itu. Tadi pagi aku lupa membawa buku gambar gara-gara mengurus foto si Dito. Aku berniat mempersiapkan dari sekarang sambil berusaha melupakan punggung putih itu. Sesuatu jatuh bertebaran ke lantai ketika aku mengambil buku gambar. Seketika dadaku berdebar kencang setelah tahu apa yang jatuh tadi. Lepasan dari majalah asing. Di tiap pojok bawahnya tertulis "Hustler" edisi tahun lalu. Satu serial foto sepasang bule yang sedang berhubungan kelamin! Ada tiga gambar, gambar pertama Si Cewe terlentang di ranjang membuka kakinya sementara Si Cowo berdiri di atas lututnya memegang alatnya yang tegang besar (mirip punyaku kalau lagi tegang cuma beda warna, punyaku gelap) menempelkan kepala penisnya ke kelamin Cewenya. Menurutku, dia menempelnya kok agak ke bawah, di bawah "segitiga terbalik" yang penuh ditumbuhi rambut halus pirang.

Gambar kedua, posisi Si Cewe masih sama hanya kedua tangannya memegang bahu si Cowo yang kini condong ke depan. Nampak jelas separoh batangnya kini terbenam di selangkangan Si Cewe. Lho, kok di situ masuknya ? Kuperhatikan lebih saksama. Kayaknya dia "masuk" dengan benar, karena di samping jalan masuk tadi ada "yang berlipat-lipat", persis gambar milik Dito kemarin. Menurut bayanganku selama ini, "seharusnya" masuknya penis agak lebih ke atas. Baru tahu aku, khayalanku selama ini ternyata salah! Gambar ketiga, kedua kaki Si Cewe diangkat mengikat punggung Si Cowo. Badan mereka lengket berimpit dan tentu saja alat Si Cowo sudah seluruhnya tenggelam di "tempat yang layak" kecuali sepasang "telornya" saja menunggu di luar. Mulut lelaki itu menggigit leher wanitanya, sementara telapak tangannya menekan buah dada, ibujari dan telunjuk menjepit puting susunya. Gemetaran aku mengamati gambar-gambar ini bergantian. Tanpa sadar aku membuka resleting celanaku mengeluarkan milikku yang dari tadi telah tegang. Kubayangkan punyaku ini separoh tenggelam di tempat si Mar persis gambar kedua. Kenyataannya memang sekarang sudah separoh terbenam, tapi di dalam tangan kiriku. Akupun meniru gambar ketiga, tenggelam seluruhnya, gambar kedua, setengah, ketiga, seluruhnya.. geli-geli nikmat... terus kugosok... makin geli.. gosok lagi.. semakin geli... dan.. aku terbang di awan.. aku melepas sesuatu... hah.. cairan itu menyebar ke sprei bahkan sampai bantal, putih, kental, lengket-lengket. Enak, sedap seperti waktu mimpi basah. Sadar aku sekarang ada di kasur lagi, beberapa detik yang lalu aku masih melayang-layang. He! Kenapa aku ini? Apa yang kulakukan ? Aku panik. Berbenah. Lap sini lap sana. Kacau ! Kurapikan lagi celanaku, sementara si Dia masih tegang dan berdenyut, masih ada yang menetes. Aku menyesal, ada rasa bersalah, rasa berdosa atas apa yang baru saja kulakukan. Aku tercenung. Gambar-gambar sialan itu yang menyebabkan aku begini. Masturbasi. Istilah aneh itu baru aku ketahui dari temanku beberapa hari sesudahnya. Si Dito menyebutnya 'ngeloco'. Aneh. Ada sesuatu yang lain kurasakan, keteganganku lenyap. Pikiran jadi cerah meski badan agak lemas..

***

Sehari itu aku jadi tak bersemangat, ingat perbuatanku siang tadi. Rasanya aku telah berbuat dosa. Aku menyalahkan diriku sendiri. Bukan salahku seluruhnya, aku coba membela diri. Gambar-gambar itu juga punya dosa. Tepatnya, pemilik gambar itu. Eh, siapa yang punya ya ? Tahu-tahu ada di balik buku-bukuku. Siapa yang menaruh di situ ? Ah, peduli amat. Akan kumusnahkan. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tidak akan masturbasi lagi. Perasaan seperti ini masih terbawa sampai keesokkan harinya lagi. Sehingga kulewatkan kesempatan untuk meraba dada Mar seperti kemarin. Ia telah memberi lampu hijau untuk aku "tindaklanjuti". Tapi aku lagi tak bersemangat. Masih ada rasa bersalah.

Hari berikutnya aku "harus" tegang lagi. Bukan karena Si Mar yang (menurutku) bersedia dijamah tubuhnya. Tapi lagi-lagi karena Si Putih molek itu, Tante Yani. Siang itu aku pulang agak awal, pelajaran terakhir bebas. Sebentar aku melayani Luki melempar-lempar bola di halaman, lalu masuk lewat garasi, seperti biasa. Hampir pingsan aku ketika membuka pintu menuju ruang keluarga. Tante berbaring terlentang, mukanya tertutupi majalah "Femina", terdengar dengkur sangat halus dan teratur. Rupanya ketiduran sehabis membaca. Mengenakan baju-mandi seperti dulu tapi ini warna pink muda, rambut masih terbebat handuk. Agaknya habis keramas, membaca terus ketiduran. Model baju mandinya seperti yang warna putih itu, belah di depan dan hanya satu pengikat di pinggang. Jelas ia tak memakai kutang, kelihatan dari bentuk buah dadanya yang menjulang dan bulat, serta belahan dadanya seluruhnya terlihat sampai ke bulatan bawah buah itu. Sepasang buah bulat itu naik-turun mengikuti irama dengkurannya. Berikut inilah yang membuatku hampir pingsan. Kaki kirinya tertekuk, lututnya ke atas, sehingga belahan bawah baju-mandi itu terbuang ke samping, memberiku "pelajaran" baru tentang tubuh wanita, khususnya milik Tante. Tak ada celana dalam di sana. Tanteku ternyata punya bulu lebat. Tumbuh menyelimuti hampir seluruh "segitiga terbalik". Berwarna hitam legam, halus dan mengkilat, tebal di tengah menipis di pinggir-pinggirnya. "Arah" tumbuhnya seolah diatur, dari tengah ke arah pinggir sedikit ke bawah kanan dan kiri. Berbeda dengan yang di gambar, rambut Tante yang di sini lurus, tak keriting. Wow, sungguh "karya seni" yang indah sekali ! Kelaminku tegang luar biasa. Aku lihat sekeliling. Si Tinah sedang bermain dengan anak asuhnya di halaman depan. Si Mar di belakang, mungkin sedang menyetrika. Kalau Tante sedang di ruang ini, biasanya Si Mar tidak ke sini, kecuali kalau diminta Tante memijit. Aman !</blockquote><br />
<a href="http://www.situs-dewasa.com/url.php?145adzdd4wx" target="_blank"  rel="nofollow"><img src="http://www.foto-bugil.info/images/cewek-bugil.gif" border="0"></a><br />]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/11/2007/cerita-dewasa-tante-yani-persetubuhan-pertamaku-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Dewasa : Tante Yani : Persetubuhan Pertamaku (1)</title>
		<link>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/11/2007/cerita-dewasa-tante-yani-persetubuhan-pertamaku-1.html</link>
		<comments>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/11/2007/cerita-dewasa-tante-yani-persetubuhan-pertamaku-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 05:08:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita 17Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Panas]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seru]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.situs-dewasa.com/cerita-seru/11/2007/cerita-dewasa-tante-yani-persetubuhan-pertamaku-1.html</guid>
		<description><![CDATA[Tags: Cerita Dewasa, Cerita Seru, Cerita Panas, Cerita 17 Tahun, tante girang

<blockquote>Sebenarnya tidak sekali ini aku melihat Tante memakai kimono. Kenapa aku tadi terangsang mungkin karena "penghayatan" yang lain, gara-gara majalah itu. Selesai makan ada dorongan aku ingin ke ruang tengah, meneruskan "penelitianku" tadi. Aku ada alasan lain tentu saja, nonton TV swasta, hal baru bagiku. Mungkin aku mulai kurang ajar : mengambil posisi duduk di sofa nonton TV tepat di depan Tante, searah-pandang kalau mengamati pahanya ! "Gimana sekolahmu tadi To ?" tanya Tante tiba-tiba yang sempat membuatku kaget sebab sedang memperhatikan bulu-bulu kakinya. "Biasa-biasa saja Tante." "Biasa gimana ? Ada kesulitan engga ?" "Engga Tante." "Udah banyak dapat kawan ?" "Banyak, kawan sekelas." "Kalau kamu pengin main lihat-lihat kota, silakan aja." "Terima kasih, Tante. Saya belum hafal angkutannya." "Harus dicoba, yah nyasar-nyasar dikit engga apa-apa, toh kamu tahu jalan pulang." "Iya Tante, mungkin hari Minggu saya akan coba." "Kalau perlu apa-apa, uang jajan misalnya atau perlu beli apa, ngomong aja sama Tante, engga usah malu-malu." Gimana kurang baiknya Tanteku ini, keponakannya saja yang nakal. Nakal ? Ah 'kan cuma dalam pikiran saja, lagi pula hanya "meneliti" kaki yang tanpa sengaja terlihat, apa salahnya. "Terima kasih Tante, uang yang kemarin masih ada kok." "Emang kamu engga jajan di sekolah ?" Berdesir darahku. Sambil mengucapkan 'jajan' tadi Tante mengubah posisi kakinya sehingga sekejap, tak sampai sedetik, sempat terlihat warna merah jambu celana dalamnya ! Aku berusaha keras menenangkan diri. "Jajan juga sih, hanya minuman dan makanan kecil." Akupun ikut-ikutan mengubah posisi, ada sesuatu yang mengganjal di dalam celanaku. Untung Tante tidak memperhatikan perubahan wajahku. Sepanjang siang ini aku bukannya nonton TV. Mataku lebih sering ke arah Tante, terutama bagian bawahnya!

Hari-hari berikutnya tak ada kejadian istimewa. Rutin saja, sekolah, makan siang, nonton TV, sesekali melirik kaki Tante. Oom Ton pulang kantor selalu malam hari. Saat ketemu Oomku hanya pada makan malam, bertiga. Si Luki, anak lelakinya 4 tahun biasanya sudah tidur. Kalau Luki sudah tidur, Tinah, pengasuhnya pamitan pulang. Pada acara makan malam ini, sebetulnya aku punya kesempatan untuk menikmati" (cuma dengan mata) paha mulus berbulu Tante, sebab malam ini ia memakai rok pendek, biasanya memakai daster. Tapi mana berani aku menatap pemandangan indah ini di depan Oom. Betapa bahagianya mereka menurut pandanganku. Oom tamat sekolahnya, punya usaha sendiri yang sukses, punya isteri yang cantik, putih, mulus. Anak hanya satu. Punya sopir, seorang pembantu, Si Mar dan seorang baby sitter Si Tinah. Sopir dan baby sitter tidak menginap, hanya pembantu yang punya kamar di belakang. Praktis Tante Yani banyak waktu luang. Anak ada yang mengasuh, pekerjaan rumah tangga beres ditangan pembantu. Oh ya, ada seorang lagi, pengurus taman biasa di panggil Mang Karna, sudah agak tua yang datang sewaktu-waktu, tidak tiap hari.

Keesokkan harinya ada kejadian 'penting' yang perlu kuceritakan. Pagi-pagi ketika aku sedang menyusun buku-buku yang akan kubawa ke sekolah, ada beberapa lembar halaman yang mungkin lepasan atau sobekan dari majalah luar negeri terselip di antara buku-buku pelajaranku. Aku belum sempat mengamati lembaran itu, karena buru-buru mau berangkat takut telat. Di sekolah pikiranku sempat terganggu ingat sobekan majalah berbahasa Inggris itu, milik siapa ? Tadi pagi sekilas kulihat ada gambarnya wanita hanya memakai celana jean tak berbaju. Inilah yang mengganggu pikiranku. Sempat kubayangkan, bagaimana kalau Ani hanya memakai jean. Kaki dan pahanya yang kurang bagus tertutup, sementara bulatan dadanya yang besar terlihat jelas. Ah.. nakal kamu To !</blockquote><br />
<a href="http://www.situs-dewasa.com/url.php?145adzdd4wx" target="_blank"  rel="nofollow"><img src="http://www.foto-bugil.info/images/cewek-bugil.gif" border="0"></a><br />]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/11/2007/cerita-dewasa-tante-yani-persetubuhan-pertamaku-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Dewasa : Bu Ning Mentor Sex ku</title>
		<link>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/10/2007/cerita-dewasa-bu-ning-mentor-sex-ku.html</link>
		<comments>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/10/2007/cerita-dewasa-bu-ning-mentor-sex-ku.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 09:37:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Panas]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seru]]></category>
		<category><![CDATA[Tante Girang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.situs-dewasa.com/cerita-seru/10/2007/cerita-dewasa-bu-ning-mentor-sex-ku.html</guid>
		<description><![CDATA[Tags: Cerita Dewasa, Cerita Seru, Cerita Panas, Cerita 17 Tahun

<blockquote>Pada saat saya kembali ke ruang tamu, rupanya Bu Ning tidak kelihatan. Saya menjadi bingung, saya cek apakah dia ada di kamarnya, juga ternyata tidak ada. Saya balik ke kamar saya, ternyata Bu Ning sedang berbaring di kamar saya, dan pura-pura tidur dengan kain yang tersingkap ke atas, sehingga hampir semua pahanya yang putih mulus terlihat jelas.

Saya membangunkan Bu Ning, namun bukannya bangun, malah saya ditarik ke samping ranjang, dipeluk dan bibir saya diciuminya. Karena saya masih bersikap biasa, Bu Ning membuka kebayanya dan meminta saya untuk mencium buah dadanya yang sangat besar dengan puting hitam yang sangat menantang. Saya menuruti dengan perasaan takut, dan ternyata ketakutan saya membuat Bu Ning semakin penasaran dan meminta saya untuk membuka baju dan celana panjang, sehingga tinggal CD, sementara Bu Ning mulai membuka kainnya.

Bu Ning mulai mencium adik kecil saya, dan meminta saya melakukan hal yang sama, dengan mencium vaginanya yang wangi dan merangsang secara bergantian. Sambil mencium vaginanya, tangan saya disuruh meremas buah dadanya yang masih keras dan kadang memilin putingnya yang mulai mengeras, nafas Bu Ning mulai terasa cepat, dan meminta saya untuk membuka CD dan mencium tonjolan daging yang tersembul di mulut vagina. Saya melakukan sesuai perintah Bu Ning, dan ternyata terasa basah di hidung saya karena banyaknya cairan yang keluar dari vagina Bu Ning, sementara Bu Ning mendesis dan mendesah keenakan dan kadang-kadang mengejangkan kakinya.

"Uhhh.. ohhh.. ahhh.. ohhh.., terus Dik..!" desahnya tidak menentu.
Meriam saya berdiri tegang dan Bu Ning masih mempermainkan dengan tangannya. Sesekali Bu Ning meminta saya untuk mengulum bibir dan putingnya. Setelah puas dengan permainan cumbu-cumbu kecil ini, Bu Ning kembali ke kamarnya dan saya pun teridur dengan pulasnya.
</blockquote>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.situs-dewasa.com/cerita-panas/10/2007/cerita-dewasa-bu-ning-mentor-sex-ku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
