Cerita Dewasa : Sri - Wanita keduaku - Bagian Kedua

November 29th, 2007 by admin
cewek bugil

Cerita Dewasa : Sri - Wanita keduaku - Bagian Kedua

Tags: Cerita Dewasa, Cerita Seru, Cerita Panas, Cerita 17 Tahun

Setelah malam itu aku tak sabar menantikan malam2 selanjutnya. Aku yakin, dia telah jatuh ke dalam perangkapku walau sebenarnya dia kelihatan masih malu2. Aku yakin sekali malam ini dia tidak akan bisa tidur memikirkan diriku, lelaki yang telah mengobarkan nafsu birahinya yang terpendam itu.

Benar saja. Hari2 selanjutnya aku telah mulai berani memeluknya langsung di rumahku atau mencium pipinya. Kadang2 dia hanya tersenyum padaku. Walau sekarang dia tidak terlalu banyak berbicara padaku, tetapi aku yakin dia cuma masih bingung bagaimana dia harus bersikap padaku. Setelah beberapa hari dia mulai terbiasa dan bahkan mulai membalas ciuman2ku. Berciuman dan berpelukan di rumah sudah menjadi hal yang biasa sekarang ini. Aku tetap bersabar dan menahan diri untuk tidak memaksanya ke tahap yang lebih jauh.

Pada suatu Minggu pagi, ketika aku baru saja mandi, dia masuk untuk mengambil pakaian kotor yang ingin dicuci. Dengan hanya memakai celana dalam, kupeluk dia dari belakang. Lalu kucium tengkuk dan lehernya. Dia melenguh dan mencoba tetap cuek. Aku balikkan badannya dan kucium lembut bibirnya. Kulumat keduanya bergantian.

”Aku kangen kamu Sri… ” kataku sambil menatap tajam matanya. Tapi dia tak berani melihat mataku. Malu.

Kucium lagi kedua bibirnya. Kemudian beralih ke lehernya, telinga, pipi dan kembali kulumat kedua bibir sexynya. Dia membalas. Kami mulai saling berciuman hangat pagi hari itu. Lidah kami bertautan kembali.

Kurebahkan tubuhnya ke kasurku perlahan. Dia menatapku sayu.
Kembali kuciumi semua jengkal tubuhnya. Tanganku ikut meraba semua tubuhnya. Kami saling berpelukan, berciuman. Sekarang dia juga ikut meraba dan meremas tubuhku. Kugesekkan adikku turun naik pada daerah sensitifnya. Dia menggelinjang kecil.

Pelan2 kucoba membuka bajunya. Tapi dia menahan tanganku.
”Jangan Pak… Nanti keterusan. ”
”Tidak Sri, aku janji tidak akan lebih dari ini… ” Kutarik cepat tshirtnya sehingga sekarang dia tinggal memakai BH yang kelihatan sangat sempit menahan kedua bukit papyudara indahnya itu. Aku cium daerah sekitar payudaranya. Dia kembali meracau tidak jelas.

”Ah… Ehmm… ahhhhh…. oh…. ”
Sementara itu aku kembali mencoba membuka roknya. Perlahan2 kucoba meloloskannya dari pinggang dan pantatnya. Dia kembali menahan tanganku.
”Jangan pak…. ”
”Kenapa Sri,… aku cuma ingin melihat tubuhmu yang indah ini Sri. Aku tidak akan melakukan apa2. ”

Dia tidak bisa menolak. Sekarang dia cuma memakai pakaian dalam saja, begitu pula diriku. Aku kembali melancarkan seranganku. Kuraba paha dan betisnya turun naik secara teratur. Lalu naik ke arah paha dalamnya dan kugesek2 tanganku di sekitar kemaluannya. Kakinya mulai bergerak lagi tidak teratur.

Sekarang aku naik ke perutnya. Kuciumi daerah pusar dan sekitarnya, lalu naik ke sekitar payudaranya. Ingin sekali segera kubuka kedua BH putihnya itu. Tapi aku masih sabar dengan hanya mencium payudaranya dari luar. Tanganku mengusap2 kedua payudaranya dan meremas2 ringan. Jari telunjukku kuputar2kan di daerah puncak bukitnya. Kelihatan sekali dia sudah semakin lupa diri.

Gemas, kuemut kedua putingnya dari luar. Badannya bergelinjang naik dan turun. Tanganku segera meremas2 kedua payudaranya dari samping, sementara mulutku mencoba menarik putingnya dari luar BH putihnya itu. Dia semakin menggelinjang tak tertahan. Saat dia tak sadar, kubuka cepat kaitan belakang BHnya. Lalu kutarik cepat dan kulempar entah ke mana. Sekarang terbentang dihadapanku dua bukit indah yang selama ini aku mimpi2kan.

Putingnya kecil dengan aeraolanya yang berwarna coklat muda, telah tegak menjulang. Terlihat jelas urat2 disekitar payudaranya yang putih. Sungguh payudara yang indah dan proporsional, yang telah lama kuidam2kan, bahkan jarang kulihat pada wanita di film2 biru dengan bentuk sebagus ini.

Sri yang agak terkejut dengan perbuatanku berusaha menutup kedua dadanya. Tapi aku lebih lihai dengan menangkap kedua tangannya. Kemudian dengan cepat kuemut kedua puncak bukit indah itu bergantian. Dia menggeliat tak beraturan.

”Jangan Pak…. Ahh,… Ehmmm… jaaanngg….an… paaaaakkkk. ”
Tapi tubuhnya memperlihatkan tanda2 yang berbeda. Setelah tangannya menunjukkan kerelaan, segera kugenggam kedua bukitnya dan kubenamkan wajahku diantaranya. Setelah beberapa lama aku bermain di payudaranya, kualihkan seranganku selanjutnya ke daerah kemaluannya. Kugesek2kan hidungku di wilayah terlarang itu.

Sri kelihatan pasrah dengan apa yang kulakukan sekarang ini. Semakin lama seranganku menjadi semakin intensif. Aku jilat celana dalamnya dari luar. Basah dan terasa asin. Tanganku menggapai kedua tepi celananya dan kutarik perlahan ke bawah dengan cepat. Sekarang terlihat dengan jelas daerah kemaluannya. Sedikit basah dan becek di sana.
Bulu2 kemaluan di daerah itu sedikit lebar, jarang dicukur pikirku.. Tapi daging vaginanya yang merah muda telah terlihat merekah menggoda.

”Jangan pak… Kita tidak boleh melakukan ini pak….. Jangan pak. Mohon….”
”Jangan takut Sri, aku tidak akan memasukkannya. Aku cuma ingin membuat senang….
”Tidak pak… Kita sudah terlalu jauh… Saya takut pak. ”
”Percayalah padaku Sri. Aku tidak akan memasukkannya. ”

Kupindahkan tangannya dari daerah kemaluannya sehingga aku bisa lebih leluasa merangsangnya. Kugigit2 dengan kedua bibirku daerah luar sensitifnya. Lalu tanganku membuka kedua sisi vaginanya dan segera kujilat daerah klitorisnya.
Sri kelihatan mengejang tidak teratur dan terus bergerak2 sehingga sulit bagiku untuk terus melancarkan seranganku yang tadi lagi.

Aku pindahkan selangkanganku ke arah wajahnya dan segera kubuka celana dalamku. Sri melihat sekilas ke arah penisku yang sedang menegang tinggi itu.

”Sri, tolong puaskan Bapak juga Sri. ” Kupegang satu tangannya dan kuarahkan ke batang kemaluanku. Seperti tahu apa yang harus dilakukan, dia memegang erat dan mulai mengurut batangku naik dan turun. Walau awalnya kelihatan sungkan, tapi semakin lama dia mempercepat urutan tangannya.

Dengan posisi 69 yang menyamping ini aku kembali menciumi daerah kemaluannya. Sri kembali mengejang dan mengapit kepalaku di antara kedua kakínya. Kemaluanku sekarang cuma digenggam erat olehnya. Aku jilat habis kemaluannya dan terakhir kujilat dan kuemut klitorisnya. Kali ini aku tidak melepaskan seranganku disana dan kuemut terus klitorisnya sampai Sri berteriak tertahan dan mengeluarkan cairan orgasmenya.

”Akhhh…. Emmmmmmmhhhhhhhh……hhhhhaahh hah hhaah ” Lenguhan panjang keluar dari mulutnya menandai datangnya badai kenikmatannya. Aku biarkan sebentar dia mengumpulkan nafasnya kembali. Aku bangkit sedikit, kemudian mencium pahanya yang mulus dengan lembut dan mengelusnya. Dia melihat ke arahku sayu.

”Sri, tolong aku juga Sri… Kamu mau kan memuaskan Bapak…”
Seakan tahu apa yang harus dikerjakannya, dia kemudian kembali mengurut batangku naik dan turun. Terasa tidak enak aku segera telentang, sehingga dia terpaksa harus bangun untuk melanjutkan kegiatannya. Dia mengurut dengan irama teratur. Kelihatannya dia masih malu dan tidak biasa dengan aktifitas ini.

”Pegang yang kuat Sri… Yah… begitu… lebih cepat…akh….. akh…. akh… ” kataku membimbingnya.
Aku melihat dia juga berkonsentrasi melihat batang kejantananku.

”Sri… aku ingin dikulum di mulutmu Sri… Tolong Sri… ”

Dia kelihatan ragu tapi tidak berani menolak permintaanku. Ragu2 dia mendekatkan mukanya ke batangku. Membuka mulutnya sedikit dan mulai mengecup ujung batangku.
Pelan2 dimasukkannya batangku seluruhnya ke mulutnya dan mulai memacunya.

”Akh… enak Sri…Yah begitu… Mmmmhhh… ahhh… Isap lebih kuat Sri… Oh… yah begitu Sri… Lebih cepat Sri…. Mmmmmhhhh”

Aku segera merasakan gelombang nafsuku akan segera datang.

”Aku mau datang Sri… Dikocok aja pakai tanganmu lebih kencang… Ohhhh…. ”

Sri kelihatan sudah terbiasa dengan tugas barunya itu. Dia menggenggam batangku dengan mantap kuat dan mengurutnya kencang. Benar saja, tak berapa lama kemudian spermaku menyembur dengan kuatnya. Aku berteriak tertahan dan telentang bebas sebentar.

Aku membalikkan badanku dan kupeluk tubuh Sri dengan erat. Kami terdiam beberapa lama sambil mengumpulkan tenaga baru lagi. Sri menunduk dalam pelukanku.

”Terima kasih Sri… ” Hanya itu yang keluar dari mulutku. Seperti biasa dia hanya terdiam. Karena hari ini hari libur maka aku tidak ada kegiatan lainnya. Aku dan Sri tetap berpelukan dan terdiam membisu. Kami berdua akhirnya tertidur berpelukan dalam ketelanjangan. Cukup lama rasanya kami tertidur sampai akhirnya dia terbangun dan berusaha bangkit. Sekilas kulihat dia berpakaian, bagaimana payudara besarnya yang tergantung indah di dadanya terbalut kembali oleh BH putihnya. Kulit pantatnya yang mulus berguncang2 saat dia mencari celana dalamnya yang kubuang entah kemana. Semua detail pemandangan pagi itu kurekam jelas dalam ingatanku.

Setelah dia selesai memakai semua memakai pakaiannya, dia menoleh sebentar ke arahku. Aku senyum padanya. Dia hanya tersenyum kecut lalu keluar dari kamarku sambil membawa pakaian kotor yang tadi ingin dicucinya. Sepeninggalnya aku hanya berbaring termenung memikirkan rencana selanjutnya. Lalu setelah mandi sekali lagi aku keluar menemuinya lagi. Ternyata dia masih di dapur. Aku tak ingin mengganggunya. Maka akupun ke ruang tamu membaca koran. Setelah dia selesai memasak kupanggil dia. Kusuruh dia agar duduk di dekatku. Dia menurut tapi diam menunduk.

”Sri yang tadi terjadi itu … Apakah kamu marah pada Bapak ? ” Dia diam tidak menjawab
”Bapak tahu, Bapak yang salah… Memang setiap kali Bapak melihat kamu, Bapak seakan tidak bisa menahan diri… Sri”
”Wajah kamu yang cantik dan tubuhmu selalu terbayang2 dalam pikiranku… Maafkan Bapak Sri,… Terus terang aku suka padamu saat pertama kali melihatmu. Kamu cantik, supel dan baik… Mungkin ini yang namanya jatuh cinta lagi. ”
Dia masih terdiam menunduk tapi matanya kelihatan bergerak2. Kupegang dahunya dan kupalingkan wajahnya sehingga sekarang kami saling bertatapan. Lalu kupegang pipinya dan kuelus2 dengan ibu jariku.

”Aku tidak menyesal Sri dengan apa yang telah aku lakukan tadi, karena aku cinta padamu. ”
”Kalau kamu perlu sesuatu atau bantuan,… katakan saja padaku. Semoga aku bisa membantumu… ” Perlahan kudekati dan kupeluk lagi tubuhnya dengan lembut. Dia masih tetap saja terdiam sampai akhirnya dia pamit pulang. Aku tidak melarangnya, bagiku sekarang dia telah jatuh ke dalam pelukanku. Dia cuma perlu waktu untuk menenangkan dirinya saja.

cewek bugil

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.