Cerita Dewasa : Gadisku obsesiku (bagian 1)
Tags: Cerita Dewasa, Cerita Seru, Cerita Panas, Cerita 17 Tahun
Aku adalah seorang manager logistik di sebuah perusahaan manufaktur Korea di Pinggiran jakarta, aku senang sekali berpetualang bersama gadis-gadis yang bisa aku gauli dengan bebas, entah sudah berapa kali dan berapa wanita yang masuk dalam kehidupan liarku, bahkan akupun bisa dengan leluasa berbagi dan bertukar pasangan dengan salah seorang Korea yang kebetulan direktur di perusahaan tempat aku bekerja sehingga memudahkan aku memperoleh akses khusus dan memuluskan karirku karena kebetulan kami memiliki hobby yang sama. Namun kali ini kelihatannya aku mulai melanggar prinsipku sendiri yang mana tadinya aku tidak pernah mau dan tidak pernah membiarkan diriku untuk terlibat perasaan dengan sorang wanita, ketika aku menjumpai seorang karyawan baru di kantor pusat di Jakarta.
Perkenalanku dengan Wina (nama sebenarnya) salah satu staff Accounting baru di perusahaan tempat aku bekerja, ketika aku secara kebetulan harus singgah di kantor pusat untuk membereskan urusan pekerjaan. Aku ngotot mendatangi kantor pusat (biasanya aku dibantu oleh kurir) karena mendengar kabar tentang makhluk baru yang kabarnya cukup cantik itu. Wina, seperti layaknya gadis-gadis keturunan lainnya berkulit putih bersih. Tak begitu tinggi, sekitar 160cm, wajahnya yang cukup ‘imut-imut’ dengan rambut lurus panjang sepunggung, hitam mengkilat dengan poni tebal menutupi dahinya, ukuran dadanya kelihatannya sedang-sedang saja, tak begitu tampak ukurannya sebab tersembunyi dibalik baju seragamnya yang “sopan”, Rok span 5 cm di atas lutut memperlihatkan kakinya yang indah mulus. Dalam percakapan singkat sewaktu membereskan berkas-berkas, aku sempat diberitahu bahwa minggu depan dialah yang harus melakukan stok opname di pabrik tempat aku bekerja dan aku harus mengantar-jemputnya ke kantor pusat.
“Ditunggu minggu depan ya …….” bisikku sambil melangkah keluar. Wina hanya senyum tipis tak menyahut.
Seminggu berlalu, dan tiba saatnya waktu stok opname yang ditunggu-tunggu itu. Aku sengaja membuar persiapan agar beberapa barang yang sulit dibuat kacau hitungan stoknya. Maksudku adalah untuk mengulur waktu sehingga waktu stok opname jadi lebih panjang dan tidak selesai sampai sore, sehingga aku bisa mencari kesempatan untuk mengantarkannya pulang, seperti kenyataan sekarang ini, dia sudah berada satu mobil denganku karena memang sudah kemalaman.
“Saya antar pulang, ya”
“Engga usah, biasa pulang sendiri naik angkot” elaknya
“Sekali-sekali, biar cepet sampai rumah” bujukku.
“Engga ah, udah biasa pulang telat”
“Kalau pengin pulang telat, ya…jalan-jalan dulu”
“Mau kemana” jeratku mulai mengena.
“Yah…nonton, kek”
“Engga suka”
“Atau kita makan aja yuk” aku mulai masuk
“Terserahlah ….â€Aku tersenyum penuh kemenganan, segera mobil kupacu kearah pinggiran kota dimana aku tahu ada sebuah restoran yang juga menyediakan kamar-kamar hotel. Setengah jam kemudian kami sudah duduk di beranda salah satu bungalow sambil makan ikan bakar.
Selesai makan obrolan dilanjutkan. Dia mulai terbuka dengan bercerita tentang pekerjaannnya, suasana rumahnya, dan pacarnya. Ternyata Wina pacaran dengan orang Cina yang sudah berkeluarga. Sambil ngobrol, sesekali tanganku menyentuh pundaknya, menepuk pahanya. Wina tak memprotes kelakuan tanganku.
“Kenapa tadi ngaku udah menikah”
“Supaya mas engga macam-macam”
“Emangnya aku takut sama suami kamu”
“Tuh…. kan…….” Wina tak meneruskan kalimatnya, karena aku langsung pegang kedua bahunya, dan bibirnya kucium.
“hhmmpppfff ………â€Wina meronta tapi kepalanya kupegang. Masih duduk di kursi kami berciuman. Sesaat kemudian Wina tak berontak lagi. Lidahku mulai masuk ke mulutnya dan ternyata disambut pula dengan lidahnya. Hatiku bersorak. Wina tak menolak !
Dari kepala, tanganku turun merabai dadanya. Amboi….ternyata Wina punya gumpalan daging yang bulat dan keras. Dari luar memang tak begitu kelihatan tonjolan dadanya. Kemeja seragamnya terlalu sopan untuk menonjolkan bagian-bagian tubuh. Wina membiarkan tanganku meremas-remas dadanya. Wah….ini sih bisa “dimainkan”, pikirku. Penisku mulai tegang, walaupun remasan itu tak langsung, masih ada kutang dan kemeja, tapi bentuk bulatnya terasa memenuhi telapak tanganku. Adanya “sinyal penerimaan” ini membuatku melangkah lebih lanjut. Kubuka kancing kemejanya satu persatu. Tapi sampai kancing keempat, Wina menahan tanganku sambil melepaskan ciumannya.
“Jangan….Mas……” katanya sambil terengah.
Kesempatanku untuk melihat buah dadanya. Dibalik kutang berwarna krem itu menyembul sepasang gumpalan daging putih bersih. Bukan main indahnya. Buah dada Wina tak begitu besar, cuma bentuk bulatnya, ditambah putih mulus, menjadi nyaris sempurna. Walaupun masih tertutup kutang, tapi pinggir-pinggir atasnya yang terbuka menegaskan bentuk bulatnya itu. Segera saja aku menciumi bagian dada yang tak tertutup kutang, termasuk belahannya. Terasa, tambah satu lagi keistimewaan buah ini : kenyal! Besar, Bulat, putih, mulus, dan keras. tiada kata lain selain : sempurna !
Aku masih menciumi bagian dada yang tak tertutup kutang sambil mencoba melepas semua kancing kemejanya. Kembali Wina menolak tapi dengan sedikit “pemaksaan” akhirnya kemeja berhasil kutanggalkan. Badan Wina yang masih ini memang mulus. Bahu, lengan atas, dada dan perut semuanya halus. Aku belum melihat buah dadanya secara utuh, BH krem itu masih di tempatnya. Kini tali kutang sebelah kanan kutarik ke bawah hingga bulatan dada kanan makin tampak, segera saja kuciumi lagi sambil mulutku bergeser ke bawah mencari-cari putingnya. Sambil menggeser mangkuk BH itu sedikit kebawah, akhirnya berhasil juga kutemukan putting susunya yang berwarna cokelat kemerahan itu. Aku tak mau kehilangan kesempatan emas itu dan langsung mengecup dan menyedot putingnya.
Kurasakan tubuh Wina tersentak kaget, kedua tangannya dengan reflek segera menjambak rambut dikepalaku dan berusaha mendorong kepalaku menjauhi payudaranya. Namun demikian aku yang telah menduga reaksinya tak mau membiarkan diriku dipisahkan dari dadanya, dengan memperkuat kecupan dan hisapan serta gelitikan lidahku pada putting susunya yang mencuat mungil itu. Akhirnya ketegangan tangannya mulai berkurang, bahkan lama-lama sebelah tangannya mulai mengusap-usap kepalaku. Aku yang sudah merasa mendapatkan kemenangan mengendurkan serangan buasku, sambil meremas bulatan kenyal itu aku melepaskan seranganku pada payudaranya.
Penampilan gadis itu sebenarnya tidaklah terlalu menyolok, tinggi sedang sekitar 165cm, berkulit kuning langsat layaknya gadis keturunan cina pada umumnya, wajahnya oval dengan mata yang bulat, tidak seperti layaknya gadis-gadis keturunan umumnya yang bemata sipit, mungkin karena ia mengenakan kacamata minus. Hidungnga mancung dengan bibir mungil kemerahan. Rambutnya lurus hitam panjang sedikit dibawah punggung dengan poni tebal menutupi dahinya yang kecil. Namun ketika turun ke dada, payudaranya bentuknya sangat indah, tidak besar namun memiliki bulatan yang sangat bagus dan mancung kedepan sehingga jika berjalan selalu berguncang-guncang dengan segar. Puting susunya agak sedikit mendongak keatas mengikuti bentuk kerucut payudaranya, dengan aerola yang bulat cokelat muda kemerahan dan akan membengkak dan keras ketika dirangsang, mencuatkan putting susunya yang mungil makin runcing keatas. Turun kearah perut kurva itu begitu sempurna dan rata dan pinggangnya yang ramping serta memiliki pantat yang sangat sekal tidak besar namun bulat padat dan sedikit meninggi, didepannya dipangkal pahanya ……………… bukit kewanitannya tertutup rambut hitam yang tidak begitu lebat, sehingga tidak mampu menutupi bibir indah yang ada dibaliknya. Membayangkan tubuhnya yang telanjang saja kejantananku bisa meronta-ronta dibalik celana dalamku, sehingga aku semakin terobsesi terhadap dirinya.
” Woooowwww…..”, aku mendesah terkagum-kagum menyaksikan keindahan tubuhnya yang begitu putih bersih, mulus dan seksinya luar biasa. Buah dadanya yang juga putih montok terlihat begitu sangat besar tersembunyi dibalik BH mungilnya yg berwarna krem. Seperti mau meledak saja payudara Wina ini. Begitu montok dan sama sekali tak terlihat kendor. Aku tak sanggup membayangkan nikmatnya seandainya batang penisku kujepitkan diantara kedua buah payudara itu lalu kugesekkan sampai air maniku keluar. Waaah … aku harus bisa melakukannya nanti.
sesaat kemudian dengan perlahan Wina bahkan mulai membuka tali pengait BH nya diantara kedua kubah penutup gunung kembarnya itu dan sst …
Mataku melotot serasa hendak loncat keluar ketika secara nyata telah terpampang sudah dua bulatan payudaranya setelah Bh nya dilepas. Ooooouuhh ….begitu segar, begitu putih mulus, montok, sangat indah, tidak terlalu besar namun memiliki bulatan yang sangat bagus dan mancung kedepan berguncang-guncang mengikuti gerakan tubuhnya dengan segar. Puting susunya agak sedikit mendongak keatas mengikuti bentuk kerucut payudaranya, dengan aerola yang bulat cokelat muda kemerahan dan akan membengkak dan keras ketika dirangsang, mencuatkan putting susunya yang mungil makin runcing keatas.
Aku tak tahan dan sontak kembali menghampiri tubuh Wina yang sudah hampir telanjang bulat. Dengan cepat jemari kedua tanganku telah meraih dua bulatan payudara montoknya kedalam genggamanku. Seakan kesetrum dan seolah terasa begitu kecil jemari tanganku membelai dan mulai meremas kedua buah dada Wina yang begitu padat dan kenyal itu.Tak puas sampai disitu kudekatkan muka dan mulutku ke buah dadanya sebelah kanan lalu dengan rakus mulutku mulai menghisap dan mengulum puting susunya dengan sepenuh perasaan. Kupejamkan kedua mataku menikmati pengalaman pertama dalam hidupku ini. Aku menyesal tidak melakukan hal seperti ini dari dulu-dulu.
” Oooowww … geli ahh …mmmm … aduuuhh … jangan digigit dong … awww “, pekik Wina kegelian. Jemari kedua tangannya kini mengerumasi rambut kepalaku sampai awut-awutan, terkadang malah ditekannya kepalaku kedepan sampai muka dan mulutku yang sedang menyusu sampai ikut tertekan menikmati kelembutan dan kelunakan buah dadanya yang besar. Aku semakin bernafsu … cepok …cepok ketika akhirnya secara bergantian mulutku mulai menghisap puting payudaranya sebelah kiri dan dengan dibantu lidahku bibirku mulai mengenyot dan
Sementara aku semakin asyik mengenyot dan menghisap puting-puting buah dada montoknya secara bergantian dan sementara Wina semakin asyik merintih keenakan ….. jemari kedua tanganku mulai bergerak menyusuri sekujur tubuh mulusnya yang seksi, mulai dari punggungnya yang halus mulus terus bergerak kebawah ke pinggulnya yang bulat aduhai begitu menggemaskan. Aku meremas pelan … dan semakin lama semakin kuat saking gemasnya. Begitu kenyal dan padat. Mulus lagi.
Perlahan kubimbing Wina ke tempat tidur lalu perlahan kurebahkan. Aku langsung melucuti diri hingga telanjang bulat. Kelaminku sudah tegak siap. Wina melirik sebentar ke senjataku lalu wajanya menjadi merah jengah dan menoleh kearah lain sambil memejamkan mata, tanpa komentar. Novi, Dilla, Fifi, Ria dan lainnya biasanya berkomentar :” Ihhh…..besar”. Wina tidak.
Dengan hanya mengenakan roknya, Wina kini terlentang di depanku di atas kasur. Aku bermaksud menindihnya, tapi perhatianku tertuju pada sepasang paha putih bersih yang hanya tersingkap sebagian. Segera sepasang tanganku menelusuri kedua belah paha itu. Halus dan licin ! Terus ke atas hingga menyentuh CD-nya. Tiba-tiba saja Wina mengatubkan kedua kakinya yang tadi setengah terbuka sambil menutupkan tangan ke selangkangannya.
“Jangan…….” Katanya.
Okey, nanti saja. Kini aku menindih tubuhnya. Kelaminku kutempatkan di selangkangannya setelah kusingkirkan tangannya. Sambil lidahku mengeksplorasi buah dadanya, aku menggoyang pantatku. Wina menolak aku merabai CD-nya mungkin karena rangsangannya belum tinggi. Gerakan lidah dan pantatku ini “dalam rangka” meningkatkan rangsangannya. Puting itu sudah tegang dan keras, sebenarnya. Tanganku ke bawah mencari-cari kaitan roknya. Ketemu. Tapi baru saja aku menarik resletingnya, Wina berontak lagi. Aku bangkit dan lalu menarik roknya. Lagi-lagi Wina menahanku.
“Dilepas saja …biar engga kusut” akalku.
“Jangan….Mas”
“Ayo, dong An…” Rangsanganku sudah tinggi, ingin segera menyentuh kelamin Wina.
“Jangan Mas…..saya belum pernah……”
“Ah….masa….Saya udah engga tahan…nih…” Aku engga percaya begitu saja kalau ia belum pernah digauli, sebab awalnya tadi relatif lancar dan sekarang ia sudah telanjang dada. Kucoba lagi memelorotkan roknya. Wina menolak lagi, bahkan ia bangkit duduk.
“Ayolah An,….sekali saja….”
“Engga mau ! Wina belum pernah begituan”
“Ah..yang bener”“Sumpah, Mas” Padahal aku sudah sampai pada “point no return”. Aku nekat. Dengan paksaan akhirnya terlepas juga rok itu. Wina berontak sewaktu kurabai CD yang ternyata sedikit basah. Kali ini berontaknya beneran.
“Tolonglah Mas…… jangan….” Pintanya dengan wajah memelas. Aku kasihan juga. Okey, mungkin ini pertemuan yang pertama jadi Wina belum mau. Lain kali aku harus bisa menembus perawannya, kalau memang benar ia masih perawan. Tapi gimana nih, aku harus terus. Kalau engga jadi aku bisa pusing. Kalau engga berhubungan kelamin sekarang, tentu harus ada “substitusinya”. Maka kudekatkan batang kelaminku yang tegang maksimal ini ke mulut Wina.
“Iiihhh …….. masak itu masuk ke mulut ….. ???â€
“Ayolah, nanti lama-lama juga biasa …. “ Aku sedikit memaksa, sambil menari kepalanya mendekati selangkanganku.Wina menutup mulutnya dengan tangan sambil menggeleng, Aku mulai kesal. Dengan sedikit kasar kutarik tangannya, kudorong kepalanya hingga rebah kembali ke bantal, lalu kutempelkan kepala penisku ke bibirnya.
“Ayo…kulum aja sebentar” beberapa detik penisku sempat menyapu bibirnya, lalu Wina menolak lagi.
“Saya engga bisa …Mas….” Ujarnya kemudian setengah menangis.
“Jadi… gimana…. dong…. saya harus ke luar…kalau engga pusing!”Jawaban Wina adalah, tangannya meraih penisku lalu dikocoknya. Tentu saja kurang enak meskipun tangannya halus tapi tak ada “pelicinnya”. Apa boleh buat, tak ada rotan akarpun jadi, kalau kebutuhan sudah mendesak. Supaya lebih nyaman, saya suruh Wina menggunakan sabun. Cara mengocoknyapun memperlihatkan Wina belum berpengalaman. Aku harus memberikan komando kapan memperlambat, mempercepat, menyempitkan dan melebarkan genggamannya.
Ketika kurasakan hampir tiba pada puncaknya, kusuruh ia memperlambat sambil sedikit melonggarkan. Lalu ketika tensiku menurun, kuminta untuk mempercepat. Demikian seterusnya sampai Wina trampil memainkan kelaminku, tanpa komando lagi. Dia telah hafal kapan mengubah cara kocokannya dengan melihat raut mukaku dan desahanku. Aku belum ingin ejakulasi sehingga kadang-kadang aku masih menyuruhnya memperlambat. Wina memang cepat belajar, merem-melek aku dibuatnya.
Suatu saat, kurasakan geli-geli luar biasa, rasanya aku hampir ejakulasi.
“Pelanin… Win…” kataku sambil tersengal.
Tapi Wina bukannya memperlambat, malah mempercepat kocokannya. Kurang ajar, nakal juga anak ini. Aku sudah tak tahan, malah menikmati percepatan yang mengantarku sampai ke puncak.
“Srooot” tembakan mani pertama menimpa daerah dadanya. Wina kaget, tangannya berhenti.
“Teruus…. kocok……!” perintahku. Wina menurut sambil mengarahkan kelaminku agak kesamping. Srot-srot berikutnya mengenai bantal dan dinding. Sejenak aku terbang melayang………….dan lalu rebah…………!Wina cepat-cepat melap air maniku yang bertebaran di buah dadanya.
“Iiihhh…………lengket …….” Katanya.Untuk sementara aku berhasil melepaskan ketegangan. Walaupun demikian aku agak kecewa karena gagal menyetubuhinya.
“Kenapa sih Wina engga mau ?” kataku setelah kami selesai mandi.
“Sumpah Mas, saya belum pernah begituan”
“Justru belum pernah, ayo kita coba”
“Huu… enak di lu engga enak di saya.
“Sama pacar aja engga begitu. Ini pacar bukan, masa minta”
“Sama pacar kamu belum pernah juga” mataku meneliti buah dadanya yang naik turun mengikuti irama nafasnya.
“Sama siapapun” sahutnya sambil menutup buah itu dengan kutangnya.
“Kalau pacaran ngapain aja ?” tanyaku lagi sambil menyelipkan tanganku ke Bhnya meremas dada.
“Aaaahhhh………..ngga mau!”tampiknya.
‘Ya …. kaya… tadi” jawabnya. Lalu ia cerita tentang pacarnya yang selalu minta bersetubuh dan ia selalu menolaknya.
“Kenapa engga mau”
“Engga ah …… kan belum merried …….!!!â€Obrolan beralih tentang pekerjaannya. Katanya, kerjanya berat, “Cariin kerjaan dong Mas”
“Agak susah sekarang. Kecuali……”
“Kecuali apa ?”
“Kecuali kalau kamu mau kasih itu kamu”
“Weee….sory aja ya” Wina selesai memakai kembali kemejanya.
“Susah kalau begitu”
“Pulang yuk, Mas” ajaknya setelah rapi kembali.
“Sebentar…dong” Aku masih bugil.
“Cepet pakaian, Mama suka nanyain kalau kemaleman”
“Kapan ke sini lagi” Aku masih penasaran pengin meniduri Wina.
“Gimana nanti aja”
“Saya telepon ya”
“Jangan. Nanti Boss marah. Biar saya yang nelepon Mas” Setidaknya aku masih punya harapan untuk menidurinya.Hari-hari berikutnya sia-sia saja aku menunggu telepon Wina. Aku dibuat penasaran sama cewe satu ini. Ingin aku meneleponnnya ke kantor pusat itu. Tapi aku khawatir kalau ia kena marah Bossnya, lalu tak mau lagi menemuiku, maka lepaslah buruanku. Memang dibutuhkan kesabaran kalau kita memburu cewe. Sampai suatu hari, beberapa minggu setelah kejadian itu dia meneleponku. Dia bilang, dia harus stok opname lagi di bagian gudang yang ada di pabriku, karena kemarin belum selesai.Ini dia kesempatan tiba.
Singkat cerita, jadilah aku bawa Wina kali ini ke sebuah transit HotelAku nekat saja, daripada engga dapat Wina. Aku hanya punya waktu 2.5 jam, soalnya Wina harus sampai ke kantor pusat pukul 15 tepat.
Kembali aku mulai menciumi dan membuka kancing kemeja seragamnya sesampai kami di dalam kamar. Kali ini tak ada perlawanan, dengan mudah aku membuka kemeja dan kemudian BH-nya. Selesai mengeksplorasi sepasang buah yang menggiurkan itu, kubaringkan Wina ke tempat tidur. Waktu aku menelanjangi diri, Wina bahkan melepas roknya sendiri dan melipatnya dengan rapi. Maklum, habis ini ia langsung kerja. Dengan berbugil, kutindih tubuh mulus Wina yang hanya berCD itu. Kelaminku kuletakkan tepat diselangkangannya, lalu kugoyang. Sementara mulutku tak lepas dari puting mungil merah jambu yang telah mengeras itu. Kali ini aku harus bisa menembus vaginanya. Kutelusuri hampir seluruh permukaan kulit mulus itu. Penisku sudah tegang maksimum. Tibalah saatnya, kutarik celananya, tapi Wina masih menahannya. Dengan sedikit paksaan, CD itu akhirnya lepas juga. Hatiku bersorak. Aku pasti dapat kali ini.
Bukan main ! Vagina itu menunjukkan keremajaan Wina. Permukaannya bersih, hanya sangat sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus. Kuusap permukaan vaginanya, kusentuhkan jariku ke pintunya yang ternyata membasah. Lalu, sambil menyentuh kelentit, ujung jariku sampai ke pintu vaginanya. Spontan Wina menutup pahanya dan menarik tanganku. Okey, aku lalu menindihnya lagi. Kugesekkan kepala penisku ke pintu itu, lalu dengan perlahan kudorong.
“Ah…” teriaknya kecil sambil pantatnya digeser mundur.
“Jangan dimasukin Mas…”
“Engga.. engga…cuma digeser-geser aja” Ditengah gesekan, kembali aku coba menusuk. Lagi-lagi Wina mundur.
“Jangan ! Sakit….” katanya sambil cemberut lalu bangkit mencari-cari CDnya. Wah gawat nih kalau dia ngambek, bisa gagal lagi aku.
“Iya… iya… deh, saya engga masukin” kataku sambil mengembalikan posisi terlentangnya. Kubuka pahanya lagi, kutempelkan lagi penisku dan kugeser-geser naik turun, dan kadang-kadang sedikit menekan. Sebenarnya, pada posisi menekan itu kepala penisku sudah masuk, hanya kalau aku tekan lagi kontan Wina akan mundur kesakitan sambil mengancam akan “udahan”. Terpaksalah aku hanya menikmati gesekan pada kepala penisku, tapi lama-lama keteganganku naik juga, ada rasa geli-geli juga, ada rasa melayang juga, dan………….aku ejakulasi di perut Wina sambil mencengkeram tubuhnya erat-erat. Apa boleh buat, setiap aku mulai menusuk Wina selalu menghindar. Bagaimanapun ada kemajuan, Wina sudah bersedia berbugil dan melayaniku sampai ejakulasi walau kelaminku tak sampai masuk ke dalam, hanya di permukaan mulut vaginanya. Dia tak mau kehilangan keperawanannya. Dari pembicaraan setelah itu, terungkap bahwa Wina tetap mau melayaniku asal dengan cara seperti itu,===============================
Pada minggu ke enam setelah pertemuan pertamaku dengan Wina, kami sudah mulai rutin dan terbiasa untuk janjian untuk bertemu, seperti saat ini didalam sebuah Transit hotel diantara Kantor Pusat dan Pabrik tempat aku bekerja.
Penisku telah tegang, maklum sudah 3 hari aku tak menggunakannya. Maka begitu mengunci pintu kamar yang kami sewa selama 4 jam, aku menghampiri Wina, kubuka resleting celanaku, kukeluarkan isinya. Kudekatkan ke muka Wina yang masih duduk di kursi, digenggam sebentar, kemudian dielus-elus. Tiba-tiba ditariknya penisku mendekat sampai aku hampir hilang keseimbangan, dan………..langsung dimasukkan ke mulutnya ! Kejutan ! Dari dua kali pertemuan sebelumnya, berkali-kali aku minta Wina untuk melakukan oral-sex tapi tak pernah mau. Sekarang, tanpa diminta dia malah “melahap”. Kelihatan Wina belum berpengalaman melakukan oral, gerakannya sangat “sederhana”. Tapi aku merem-melek juga.
Tanganku tak tinggal diam, sambil berdiri aku berusaha melepaskan kancing baju gadis itu sampai 3 buah yang paling atas dan sebisanya kusibakkan blouse yang sudah terbuka setengah itu selebar mungkin untuk menggapai gundukan payudaranya yang montok dan melepaskan hasrat tanganku untuk meremasnya dengan gemas.
Batang penisku menengang dengan cepat, karena memang hasratku sudah demikian menggebu, ditambah surprise yang aku terima hari ini dimana Wina dengan niatnya sendiri melakukan oral padaku. Mulutnya yang mungil nampak tak kuasa mengulum batang kejantananku yang besar hingga hanya bagian kepalanya saja yang berada didalam mulutnya.
Baru beberapa kali kuluman, pintu diketuk. Buru-buru Wina melepas penisku dan aku “menyimpannya” kembali. Pelayan membawakan barang-barang yang aku bilang tadi, aku membayar, pintu kukunci lagi, dan buru-buru menghampiri Wina yang duduk diatas sofa sambil berusaha menutupi tubuh atasnya yang setengah telanjang dengan bajunya. Aku kembali berdiri dihadapannya dan berusaha mengeluarkan batang kejantananku kembali.
“Udah ah! Ngga mau ……………..” kata Wina menolak.
Anak ini aneh, tanpa diminta ia mengulum, giliran aku mau, ia menolak. Waktu kusodorkan lagi penisku kemulutnya, Wina malah berdiri dan menciumku. Sambil bermain lidah kupereteli pakaiannya satu persatu sampai telanjang bulat, lalu kutuntun ke kasur. Aku cepat-cepat berbugil.Kutindih tubuh ranum itu, sementara mulutku menelusuri lehernya, lalu turun ke belahan dadanya, terus bergerak ke buah dada kanan, dan berakhir dengan jilatan lidah pada puting kecil merah jambu itu. Beberapa saat kemudian puting itu mulai menonjol dan mengeras.
Sambil mengemoti puting, tanganku bergerak merayapi pinggangnya dan terus ke bawah ke pahanya, lalu keselangkangan. Permukaan vagina yang hanya tumbuh sedikit rambut halus itu kutelusuri dengan tangan. Kemudian, perlahan jariku menyentuh kelentit (yang juga kecil) dan ke bawah sedikit sampai ke pintu vagina yang ternyata sudah basah. Ketika jariku mulai memasuki pintu, Wina langsung menggeser pantatnya sambil menutupkan kakinya.
Kutarik tanganku dan sampai ke dada kiri, kuremas buah kenyal itu, sementara mulutku belum lepas dari dada kanannya. Lutut kuselipkan diantara pahanya sehingga pahanya kembali membuka. Fungsi tangan yang tadi aku ganti dengan kont*l. Kutindih selangkangannya dengan penisku yang sudah keras maksimum. Seperti yang sudah-sudah aku hanya mengosokkan kepala penisku ke pintu vaginanya sambil sesekali mencoba masuk. Lagi-lagi Wina menarik pinggulnya menghindar.
Aku sudah tak tahan, nafsuku sudah sampai puncak, ingin masuk sekarang juga ! Aku melepaskan buah dadanya dan bangkit. Dengan bertumpu pada lututku, kubuka paha Wina lebih lebar, lalu kutempatkan lagi penisku ke lubang vaginanya dan kudorong. Lagi-lagi Wina menghindar.
“Engga-engga, saya engga masukin, cuma kepalanya aja seperti kemarin” kataku sambil terengah karena nafsu yang memuncak. Wina agak mengendorkan gerakannya. Perlahan-lahan kugesek-gesekan kepala penisku dipermukaan liang vaginyannya yang sudah licin itu. Lambat-laun aku mulai berusaha untuk menyibakkan labia majoranya dengan kepala penisku untuk menyeruak masuk kedalam, sedikit kepalaku masuk, kutekan perlahan dia menggelinjang, terus kutekan dengan lembut dan tanpa terasa seluruh kepala penisku telah terbenam didalam liang kemaluannya. kurebahkan tubuhku, dan kugoyang pantatku maju mundur. Tentu saja goyangan pendek, sebab penisku hanya di sekitar pintu vagina saja. Terasa sekali gerakan kepala penisku didalam liang vaginanya sangat lancar karena memang sudah sangat licin.
Kulihat wajah Wina sedikit tegang, mungkin dia takut kalau aku benar benar memasukkan semua batang kejantananku didalam liang vaginanya. Itu. Namun akhirnya aku tak tahan juga.
Ah, kalau begini terus apa enaknya. Aku nekat. Bangkit lagi bertumpu pada lutut, kutusuk vagina Wina kuat-kuat.
“Aaaahhhh …………………..†gadis itu menggelinjang kaget, menahan nafas.
“Jangan dimasukin ….†Ia sempat mem*kik, namun setelah itu matanya terpejam dan mengigit bibir, kedua tangannya mencengkeram bantal yang menyangga kepalanya.Dengan lebih pelan tapi dengan kekuatan yang sama, kembali aku menusuk. Bless…Kepala penisku masuk.
“Aaawww ……………….†Wina kembali mem*kik tertahan.
Kelihatannya masuknya kepala penisku ini seperti pertemuan kedua minggu lalu, tapi jepitannya terasa lebih erat, jangan-jangan sudah masuk nih. Aku memeriksa ke bawah, kepala itu sudah hilang ditelan vagina Wina, diujung pintu itu hanya nampak sisa sepertiga batang kelaminku. Mungkinkah aku sudah menembus perawannya ? Tapi mana darahnya ? Lagi pula Wina tak menghindar seperti biasanya. dalam kondisi begini jelas tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain terus menusuk ! Tapi mentok. Seakan tak ada lubang lagi di dalam sana. Akupun menarik pelan-pelan penisku untuk kemudian mulai mengocok, perlahan.“Eeeefffff” Wina melenguh sambil mengatubkan bibirnya. Mungkin dia mulai menikmati kocokan pelanku. Setelah beberapa kali kocokan, dengan masih bertumpu pada lututku, aku mulai menusuk lagi. Kali ini dengan tenaga penuh. Bleeessss…….kulirik ke bawah, seluruh batang milikku sudah tenggelam ! kont*lku benar-benar terjepit kuat ! Tapi masih belum ada darah. Ah, peduli amat dengan darah, yang penting….nikmat! Aku mulai mengocok lagi. Jelas kali ini lebih nikmat, karena gesekan dinding vagina Wina terasa lebih panjang di kont*lku. Wina kulihat memalingkan wajahnya ke kanan sambil menggigit jarinya. Aku rasa ia juga menikmati kocokanku. Sambil mengocok pelan, secara bertahap aku memperdalam jangkauan penisku ke dalam vagina Wina sampai seluruh batang kont*lku habis ditelan. Hatiku bersorak. Akhirnya, Aku berhasil juga menyetubuhi gadis ranum ini. Aku benar-benar berhubungan kelamin sekarang !
Aku semakin terangsang dan kembali menekan kebawah perlahan-lahan. Mili demi mili kurasakan batang penisku mulai memasuki liang vaginanya yg hangat. Rasa nikmatnya terasa sampai ke tulang sumsum. ” Ooouuhh …Winaaa …. nikmat sekali sih …..”, pekikku keenakan menikmati jepitan ketat liang vaginanya yg mulai terbuka menyambut kedatangan tamu istimewa.
” Nngghkkkkk ……nggghhhhh ……..”, rintih Wina lirih antara rasa sakit dan nikmat ketika sudah hampir seluruh batang alat vitalku telah memasuki dan mengoyak liang vaginanya.
Aku merasa begitu seretnya liang kemaluan milik Wina ini. Rasa Hangat, empuk, kenyal, dan basah seolah menjadi satu.” Mass Er …. Aahhhhh ….nggghkkk ……”, pekiknya lirih ketika alat vitalku menembus semakin dalam ke liang kemaluannya yg sempit.
Ooouuuh….. begitu terasa nikmatnya cengkeraman ketat liang kewanitaannya sampai lututku seolah gemetar ikut merasakan kenikmatan.” Winaa … aahhh …. Aku tekan lagi yaaa ….”, erangku nikmat sambil kuhentakkan pinggulku ke bawah …. Srrrtttt … slllepppssss …. Akhirnya kurasakan ujung penisku mentok sampai menyentuh dan menekan liang peranakannya. Nikmatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata. Seluruh batang penisku seakan diremas lembut, dikenyot-kenyot dan diurut-urut oleh daging hangatnya.
” Aaawwww … masssssss…….”, pekik Wina lirih. Kedua matanya dipejamkan dan bibirnya yg merah terkatup rapat seakan menahan perih, lalu sejenak kemudian matanya perlahan terbuka. Ia memandangku mesra. Bibirnya malah tersenyum manis padaku.
“Wina…. Enak sekali yaaa ….”, bisikku nakal. Wajahnya memerah jengah tersipu-sipu dan ia mencubitku gemas. Kedua tangannya memelukku mesra dan hangat. Kedua pahanya yg mulus sekarang ditekuk keatas dan diapitkan ke pinggangku kuat-kuat.” Oouuuhhh …Wina .. kau cantik sekali sih …”, bisikku gemas sambil kumulai mengayuh pinggulku turun naik mengeluar masukkan alat vitalku dari liang vaginanya.
” Iiiihhhh ….. aaawww … mass ….nngghhh…”, pekik Wina keenakan merasakan gesekan batang penisku yang mulai menghunjam keluar masuk liang kemaluannya.
” mmm …mass …ngggghhhh …nnggghh …..”
Turun ..naik..turun …naik …. Makin lama makin cepat membuat rasa nikmat senggama itu semakin terasa dan memuncak. Begitu hebatnya liang vagina Wina yg rapat dan hangat itu mengenyot, menyedot dan mengurut-urut batang alat vitalku membuat jiwaku seakan melayang-layang ke pusaran kenikmatan sorga dunia.Pinggulku yg tadi mengayuh lembut turun naik kini menghentak-hentak kuat sampai setiap kali aku menghentak ke bawah membenamkan alat vitalku kedalam liang vaginanya, buah zakarku yg menghantam pantatnya sampai menimbulkan bunyi keras ..plekk …plekkk …plekk ..
Tak kupedulikan lagi rintihan dan erangan Wina, entah kesakitan atau keenakan … yg jelas aku sendiri merasakan kenikmatan yg sangat luar biasa. Dan tak lama lagi pasti cairan kenikmatan itu akan kutumpahkan keluar.” M..mas ….awwaaww ….ngghhhhh ….. aauuuuuuwwwwwgghghghhhghghh ……”
Tiba-tiba ia mengerang keras …keras sekali sambil kurasakan pelukan kedua tangannya makin kuat…. Kedua pahanya pun menjepit makin kuat ….pinggulnya bergoyang-goyang lembut dan gemetaran. Kuku kedua jemari tangannya seakan menembus kulit punggungku dan terakhir kurasakan vaginanya merapat dan menjepit alat vitalku kuat-kuat. Aku serasa dipilin-pilin.” Nnnggghhhh …Winnnn …….aahhhh ….. Winnnnnngghhhhhhhh……”
Sejenak kemudian aku merasa cairan hangat melumuri alat vitalku yg sedang berada didalam kemaluannya.” Maaaaaaasssssssssssss ……………..aagghhhghnnngggghnnnngnggg ……”, Wina merintih keras. Tubuhnya mengejan beberapa saat sebelum akhirnya lemas kembali. Kedua pahanya yg tadi mengapit pinggangku kini malah terkulai lemas.
” Winaaa …kau orgasme sayang ….”, bisikku senang.
Aku jadi geram sendiri dan gemas melihatnya. Kuselipkan kedua telapak tanganku ke balik bokongnya yg bulat dan kenyal. Lalu kuhunjamkan turun naik pinggulku beberapa kali sebelum akhirnya kuhentakkan sekuatnya pinggulku ke bawah sampai seluruh alat vitalku benar-benar tenggelam semuanya kedalam liang kemaluan Wina. Aku merasa mentok lalu sambil kugoyang-goyangkan pinggulku memutar menikmati jepitan dan urutan liang vaginanya, 5 detik kemudian mulai kusemburkan air maniku yg kental didalam situ.
Crreeet ………ccreeeetttttt ………..crraaaaatttttttttttt …..
Wuuuiiihhhhh …. Rasanya nikmat luar biasa. Aku mengerang-ngerang nikmat melepas ejakulasi. Rohku seakan terbang keatas sorga. Kuresapi setiap mili jepitan daging liang kemaluan Wina sambil kusemburkan nikmat air maniku di dalam situ.
Aku merasa ia sama sekali tidak protes atas tindakanku, mungkin ia senang melihatku bisa menikmati tubuhnya seutuhnya. Jemari kedua tangannya yg halus memijit dan mengusap-usap mesra pantatku yg sedang gemetar melepas kenikmatan sex.
Crreeeett…….. crrattttt ……… crrreeettttttttt ……………..
Sebelum akhirnya kurasakan air maniku semakin habis dan terkuras keluar seluruhnya ke dalam liang vaginanya.
” Oouuuhhhh …. Masssss …….”, rintih Wina senang melihatku sangat terpuaskan.
Aku terkulai lemas di atas tubuh bugilnya yg berkeringat. Begitu nikmat terhempas di antara keempukan payudaranya yg kenyal. Puting-puting susunya yg terasa keras menusuk tajam dadaku. Kubiarkan alat vitalku yang baru saja menikmati enjakulasi itu tetap berada didalam liang vaginanya. Meresapi kehangatan dan kelembutannya serta sisa-sisa kenikmatan sex.
“Wina. …aaahhhhhhh …. Aku puas sekali sayangghhhh …”, bisikku lemas.Menit-menit berikutnya aku masih tak berkutik di atas tubuh Wina. Kulirik ke bawah, banyak juga aku menyemprotkan mani. Batang penisku masih agak tegang terjepit di antara liang vaginanya yang basah. Basahnya yang membuat aku heran, kenapa basah hanya oleh cairan bening agak putih, tak ada warna merah. Penasaran aku bergeser “memeriksa” vagina Wina dan sprei di bawahnya. Basah yang sama, tak ada warna merah. Dari jepitan dan cengkeraman vagina, kemudian ada rasa mentok waktu tadi masuk, aku yakin tadi telah menembus perawan Wina. Kenyataannya lain. Seseorang telah mendahuluiku. Seseorang telah memecahkan selaput dara Wina. Aku jadi berang.
“Siapa dan kapan” tanyaku menyelidik.
“Apanya…..”
“Ayolah…terus terang Saja Win…”
“Emang beda gitu ?”
“Jelas beda…. dong” sebenarnya, aku tak merasakan perbedaan jepitan tadi dengan ketika aku memerawani seseorang 5 tahun yang lalu.
“Siapa…Win ?”
“Apa bedanya ?” malah balik bertanya.
“Walaupun sedikit, punyamu harusnya berdarah” kataku. Wina diam saja. Agak lama, kemudian….
“Sama pacar saya” akhirnya ia mangak.
“Kapan ?”“Tiga minggu yang lalu”
“Kenapa engga dikasih ke saya” Wina tak menjawab. Perawannya diberikan ke siapa saja itu hak Wina, cuma aku kecewa berat. Terlambat. Kehilangan kesempatan emas yang telah lama aku inginkan. Coba aku dulu engga “ngambek” tak mau menghubungi Wina, aku bisa mendapatkannya. Cuma selisih satu minggu. Bagaimana tak kecewa ?
Beberapa menit kemudian Wina bangkit dari tempat tidur dan menggulung rambutnya yang panjang teurai keatas kepalanya, lalu menuju kamar mandi dengan masih bugil. Kuperhatikan sosok tubuh mulus itu dari belakang. Sungguh tubuh yang menggairahkan, sayang aku gagal sebagai orang pertama yang menikmati tubuh ranum itu.
Sejenak kemudian terdengar suara air yang keluar dari shower, ia sedang membersihkan diri atau mandi. Entahlah. Saat ini aku hanya ingin membaringkan tubuhku untuk memulihkan tenaga.
Keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk putih, Wina kelihatan segar. Ukuran handuk hotel BD ini kecil, sehingga hanya sanggup menutupi separoh dadanya sementara di bagian bawah hanya pas menutupi vagina. Sepasang paha mulus itu terbuka penuh. Belahan dada segar itu tampak ketika ia memunguti CD dan Bhnya. Memperhatikan gerakan-gerakan tubuhnya sewaktu memakai celana dalam dan kutangnya membuat aku terrangsang lagi. Kulihat jam, masih ada waktu sekitar 40 menit. Dengan masih berbugil segera kupeluk Wina yang baru selesai mengenakan kutang dari belakang. Kuciumi leher belakangnya dan kuremas dadanya.
“Sekali lagi ya Win…”
“Eeh…Mas….saya kan harus balik ke kantor”
“Masih ada waktu” kataku sambil sambil menggosokkan kelaminku ke pantatnya.
“Nanti telat Mas…”
“Engga….sebentar aja”Tanpa menunggu persetujuannya, Dengan sekali sentak kulepaskan kembali kaitan Bh-nya dan kuloloskan benda itu dari tubuhnya, lalu kuputar tubuhnya dan dadanya kusergap. Wina tak menolak, mungkin karena tadi merasa bersalah. Cdnya kupelorotkan, Kuangkat tubuhnya dan kududukan dia diatas meja rias. Kubuka kedua belah pahanya lebar-lebar sehingga liang vaginanya yang tertutup bulu halus itu menganga lebar. Tanpa pemanasan aku segera menjejalkan batang kejantananku yang sudah mengeras kembali kedalamnya sampai masuk seluruhnya. Aku menggoyang. Aku masuk. Aku mengocok, berputar, menggoyang………lalu mencabut. Aku ingin posisi lain.
Aku rebah terlentang. Wina nurut saja ketika kusuruh menduduki badanku, memasukkan kelaminku ke vaginanya. Ia lalu kembali membuka ikatan sanggul rambutnya hingga kini kembali tergerai kebawah. Betapa cantiknya ia dengan keadaan seperti itu.
Kupejamkan kedua mataku dan sejenak kemudian kurasakan pinggulnya mulai bergerak turun naik menyetubuhiku.” Aaahhhh …. ”
Aku mengerang-erang keenakan diantara cumbuan bibir mbak Wina saat liang vaginanya yang sempit dan hangat itu mulai menggesek batang penisku keluar masuk.
Woooowwwww ….. rasanya membuat badanku adem panas saking ueeeenaknya.” Ooouuuhh …. Wina …….ooouuuuuhhhh …..yaaaaahhh ……ooouuuuhh..”, erangku nikmat.
Begitu hebatnya Wina menggoyang pinggul turun naik tanpa mengenal lelah sedikitpun …
Menit demi menit berlalu … waktu serasa begitu panjang dan lama sekali. Kami berdua bercumbu mesra sembari saling mendesah keenakan menikmati pergesekan luarbiasa pada alat kelamin kami yang telah menyatu.
Entah sudah tak terhitung berapa puluh kali liang vagina Wina menggesek keluar masuk batang penisku yang seolah telah luluh lantak … dijepit, diremas, dipilin-pilin dan dikenyot seperti permen. Begitu hebatnya pinggul mbak Wina bergerak naik turun menghunjam-hunjamkan seluruh alat vitalku sepanjang 18,5 centi itu ke dalam lubang kemaluannya. Terkadang cepat … terkadang begitu lambat …. bahkan terkadang digerakkan memutar dari kiri ke kanan dan sebaliknya membuat batang penisku seolah diplintir-plintir tak karuan.” Nnnggghhhh. ….Wina…..ooouuuuuhhhh ……nikmaat sekali ……aahhh…”
” Uuuhhh …. Mas Eryy …nnnnggghhhh … ”
Semakin lama Wina bergerak semakin cepat menaik turunkan pinggulnya membuat alat vitalku semakin hebat menggesek keluar masuk ke dalam lubang kemaluannya. Buah zakarku sampai terguncang-guncang saking kuatnya Wina menghentak kebawah. Aku merasa tak ada lagi batang penisku yang tersisa diluar karena begitu Wina menghentakkan pinggulnya kebawah seluruh batang penisku serasa dicengkeram hebat oleh daging hangatnya sampai kandas.
Jiwaku seakan berkelojotan merasakan nikmatnya senggama yg sangat luar biasa ini. Sambil saling berpelukan erat kurasakan Wina merintih dan mengerang semakin keras.” Oooooouuuuuuhhhh ….Eryyyy ….. oooouuuuuuuhhhhh …… oouuuuuuhhhhhh….”
Aku menduga Wina sebentar lagi akan orgasme ….. wooooowwwww …….
Benar saja…. Semenit kemudian kurasakan otot-otot daging vaginanya tiba-tiba menjepit alat vitalku dua kali lebih hebat membuatku sampe merem melek keenakan. Sekujur tubuhku sampe gemetaran menahan rasa nikmat yang tak terkira. Setengah menit kemudian tiba-tiba tubuh Wina terasa kaku dan kedua pahanya yang mulus itu diluruskan kesamping kiri dan kanan sambil mengejan kuat berulang kali. Aku sendiri ikut-ikutan kelojotan seperti cacing kepanasan merasakan liang vaginanya bagaikan mesin penjepit yg luar biasa kuatnya … seakan diremas-remas dan dikenyot habis-habisan alat vitalku yang sudah ‘over heat’ itu.Wina mengerang panjang sambil mengejan-ngejan nikmat berulang-ulang … sejenak kemudian kurasakan seluruh batang penisku seperti disiram cairan hangat banyak sekali. Wooowwww … ambooi rasanya.
” Ooouuhhhh Eryyyyy ….. oooouuuuuhhhhhh ……….”, pekiknya nikmat di puncak orgasme keduanya.
Beberapa detik kemudian Wina akhirnya terdiam kelelahan. Lubang kemaluannya masih menjepit batang penisku sampai kandas. Panas rasanya alat vitalku dijepit dan digesek seperti tadi. Kupeluk dan kubelai mesra pinggang dan punggungnya yang putih mulus menetramkan perasaannya yg baru terpuaskan.Ia mengangkat wajahnya yang tampak basah berkeringat dan letih. Bibirnya yang merah tersenyum manis penuh kepuasan yg tak terkira.
“Mass Ery …. oohh ….. kamu ganas Mas …. “
Aku tersenyum bangga, aku sendiri juga tak mengira dapat mengimbangi bahkan lebih tahan lama saat bersenggama dengannya tadi. Padahal jepitan dan gesekan liang vaginanya luar biasa ketat dan nikmatnya.Gadis itu sudah mencapai orgasmenya yang kedua, namun aku karena baru saja mengeluarkan air mani kini masih belum berasa apa-apa. Kubalikkan badan gadis itu telungkup, aku ingin masuk dengan doggy style, Wina hanya menurut saja, ia bahkan menungging dan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi hingga mempermudah aku untuk kembali memasukkan milikku dari belakang.
Begitu sabar dan hebatnya Wina ikut menggoyangkan tubuhnya maju mundur memuaskan nafsu kelelakianku yang belum tuntas. Seskali digoyangkannya pinggulnya kekiri dan kekanan sambil dibawa turun naik membuat alat vitalku seakan dihisap, dibetot, dikenyot dan diplintir-plintir hebat oleh liang vaginanya itu.
Dengan posisi seperti ini aku jadi leluasa menikmati bonkahan pantatnya yang putih mulus, dan meremas-remas sepasang payudaranya yang menggelantung berat kebawah, seperti buah pepaya ranum. Akupun bisa merasakan tiapkali tusukan dalam kepala penisku bisa menyentuh liang peranakannya. Dan tiap kali itu pula Wina membenamkan wajahnya kedalam bantalâ€
“mmbbfff ……… aaahhh …………†rintihnya berulang-ulang menahan rasa nikmatnya yang luar biasa.
Uughh ….. Aku menggeram menahan rasa nikmat dan kurasakan juga akhirnya air maniku yg mulai bergerak naik hendak muncrat keluar. Sekujur tubuhku yang sedang disetubuhinya mulai menggelepar pertanda puncak kenikmatan enjakulasi sudah dekat.
” Oooouuuhh ….. …. yaaahhh …. sedikit lagi sayang …ngggggghhh ….ooooouuhhhh …. yaaahh … nggghh
..yaaahh ….sedikit lagi aku kek …ke …luar sayang ….ooouuuhhhh ……”
Wina semakin bersemangat melihatku mulai hendak enjakulasi, pinggulnya digerakkan semakin ganas maju mundur sambil digoyangkan memutar seolah hendak memlintir dan memerah alat vitalku yang sudah hendak muncrat. Begitu hebatnya jepitan liang vaginanya mengocok batang penisku sampai-sampai aku sendiri tak sanggup menanggung rasa nikmatnya yang sangat luarbiasa.
” Ooouhhh … yaaaahhhh ….. mau keluar nih Winaaa ….aaaaahhhhh ……”, teriakku keras sekali. Segera kupeluk erat pinggul montok aduhai-nya yg terus kugoyangkan pinggulku bergerak maju mundur menyetubuhinya.Wina tidak tau kalo air maniku sebenarnya sudah berada dileher kepala penisku siap untuk kusemburkan keluar, namun aku sengaja masih menahannya sejenak sekuat tenaga.
Aku mendelik nikmat saat tiba-tiba kurasakan liang vaginanya sedikit menyempit, alat vitalku yang sedang diujung enjakulasi itu langsung collaps … Dan Craatttttt ……..” Aaaaaaaaaaaagggghhhh ………..”. Aku menggeram nikmat ke puncak enjakulasi. Kuremas kedua bongkah paha itu kuat-kuat lalu bersamaan dengan itu mulai kusemburkan air maniku ke dalam lubang kemaluannya yang menjepit nakal batang penisku itu.
Wina mem*kik kaget saat dirasakannya air maniku menembak dengan kuat ke dalam rahimnya yang sangat terlarang.
Sssrrrrr ………… srrrreetttt …………. Sssttttt ……….!!!!!Semburan demi semburan kuat air maniku mulai keluar memenuhi liang vagina Wina. Sungguh tak terperikan rasa nikmat yg kurasakan. Jiwaku seakan ditarik keatas awang-awang terbang ke dalam sorga kenikmatan yang luar biasa.
” Ooowww ….Mass Eryy … iiihhh …. ooowww ……banyak sekali .. mmmm ….uuuuuhhh … “, bisiknya terengah engah.
” Oouuhh…. Winaaa ……nggghhhhhggghhh …. nikmatnya sayang …ngggggghh…..”, erangku melepas rasa
nikmat yang tak terkira. Begitu hebatnya liang vagina Wina menjepit alat vitalku … memerah air maniku yang terus menyembur-nyembur tak henti-hentinya. Saking banyaknya air maniku yang keluar sampai pergesekan batang penisku dengan liang vaginanya jadi bertambah licin dan mantap.
Kukecup dan kukulum bibirnya yang merahnya sepenuh perasaan sebelum aku memisahkan diri dari atas tubuhnya. Sayang rasanya mensia-siakan mahkluk nan manis ini, namun waktu yang harus memaksaku beranjak berdiri untuk mulai kembali berpakaian.Winapun bangkit berdiri dan kembali berjalan kearah kamar mandi, sejenak kembali terdengar suara shower tanda dia sedang membersihkan diri.
Seperempat jam kemudian kami beranjak keluar kamar, namun sesuatu yang sama sekali tak terduga kami temui di lorong hotel ini, kami berpapasan dengan sosok lelaki setengah baya, tambun berkulit hitam yang juga sedang bergandengan tangan dengan seorang perempuan. Kami sama-sama kaget namun kami juga sama-sama pura-pura tidak saling mengenal satu sama lain. Orang itu adalah pak Hussein, salah satu direktur perusahaan kami bekerja, memang desas-desus mengatakan bahwa bapak yang satu ini doyan sekali perempuan. Lelaki tua itu senyum-senyum penuh arti sambil berlalu.
Anda mempunyai usaha atau anda ingin mempromosikan website anda? Masukkan iklan anda di Iklan Baris atau Iklan Baris Gratis.


Leave a comment